Buat Ema: So Long, and thanks for all the fish!

Dua hari yang lalu, seorang rekan kerja mengakhiri masa kontraknya di kantor kami. Namanya Ema, seorang perempuan Jawa yang sudah lebih jadi orang Maluku Utara daripada orang Maluku Utara sendiri. Ema menghabiskan hampir 10 bulan di kantor yang tak pernah sepi ini. Hari-hari terakhir dia di sini, banyak kejadian sangat menyenangkan yang aku yakin takkan dia lupa. Salah satunya ini.

Satu malam sebelum dia berangkat, aku iseng kirim SMS ke tiga teman, yang kira-kira isinya begini: “Kita kasih sesuatu yang seru buat Ema, yuk. Kita nyanyi buat dia.”

Satu orang membalas: “Setuju, besok kita nyanyi gila-gilaan ya.” Satu orang meng-Okekan saja. Orang terakhir membalas dengan agak malu-malu: “He he he… saya cuma hafal lagu Garuda Pancasila…” (!?!?!)

OK. Rencana pun dimulai. Pagi-pagi keesokan harinya, seorang teman yang berkunjung ke salah satu sekolah mitra aku minta untuk meminjam beberapa alat musik sederhana.

Malamnya ketika bersiap mengantar ke pelabuhan, kami mati-matian menyuruh Ema ikut di mobil yang berbeda. Kami, tiga perempuan dan dua orang laki-laki, membiarkan mobil yang membawa Ema berangkat dan menunggu lima menit sebelum kami pelan-pelan menyusul. Sepanjang jalan kami mulai berlatih menyanyi. Beberapa lagu pendek kami ubah sedikit kata-katanya, “biar lebih menyesuaikan kondisi,” kataku.

Latihan berjalan seru. Seperempat perjalanan, lirik lagu baru sudah kami temukan. Setengah perjalanan, urutan lagu sudah mulai beres. Hanya ada masalah sedikit. Tampaknya salah satu dari kami menderita tone deaf akut. Tidak apa-apa, yang penting semangat.

Sampai di Pelabuhan Babang, semua lelaki mengantar Ema naik ke kapal Titian Samudra –kapal yang terkenal lambat dan sering mogok atau menabrak karang di tengah perjalanan– dan memasukkan barang ke dalam kamar. Setelah itu Ema kembali turun ke pelataran pelabuhan. Kami pun menarik Ema agar sedikit minggir ke bagian depan kapal yang tidak terlalu ramai dan tidak terlalu terang.

Setelah itu, kami langsung mengeluarkan dua kricikan, tiga tamtam dan sepasang marakas dan mulai bernyanyi tanpa henti apalagi malu…

“Sayonara, sayonara, sampai berjumpa pulang / Sayonara, sayonara, sampai berjumpa pulang / Buat apa susah?! Buat apa susah?! /  Susah itu tak ada gunanya!

“Gelang, sipatu gelang! / Gelang siramai-ramai / Ema pulang, Ema lah pulang, Ema lah pulang / naik Titiang!

“Sapa suru pulang duluang! / Sapa suru pulang duluang! / Sendiri suka sendiri rasa / Ee do ee sayang! /”Sapa suru pulang duluang! / Sapa suru pulang duluang! / Sendiri suka sendiri rasa / Naik Titiang!”

“Kapan-kapan, kita berjumpa lagi / Kapan-kapan, kita bertemu lagi / Mungkin lusaaaaaaaa,atau di project lain!”

Wah, ternyata cuma para perempuan yang nyalinya cukup kuat untuk ngamen dadakan seperti itu. Para lelaki duduk mengkeret di bantalan pembatas pelabuhan, sambil tertawa dengan perasaan yang pasti campur aduk antara malu, lucu dan miris….

Seru, ‘kan? Sukses pula. Tak ada air mata jatuh di perpisahan ini. Walaupun sedih, tapi nuansa kekerabatan terasa sangat kuat. Ini baru namanya unforgetable.

Ema juga adalah cook yang handal. Segala macam binatang laut bisa dia olah jadi hidangan yang pasti ludes dilahap semua orang. Ikan Woku Belanganya masih terbaik yang aku pernah rasakan sampai saat ini.

So, Ema, so long and thanks for all the fish!

One Response to this post.

  1. Posted by Ema on March 26, 2009 at 10:46 am

    Hahaha…. Agiiiiii… thanks for the “kasidahan” orang kapal bilang..

    I miss u all, bacan office, dapurnya yang adem, meja makan yang nyaman, dan pastinya kebersamaan kita…

    Kok pake dibilang semua binatang laut sih.., gw kan gak doyan “bia mini”.. kapan2 gw mo dateng gw masakin ikan paus baru tau rasa!!!.

    Reply

Respond to this post